hari itu relatif panas, segelas air putih rasanya tidak cukup untuk menghalau cuaca. Walaupun begitu, saya tetap berkonsentrasi memantau perkembangan siswa tk tempat saya mengajar ketika mereka sedang bermain dengan huruf dan angka. Tertarik rasanya mendekati teman kecil saya yang tak henti bercerita kepada teman – temannya, namanya faiz, mirip seperti nama suami saya. Kayaknya seru sekali. Tak tahan rasanya ingin bertanya pada faiz apa yang sedang seru diceritakannya itu;
“sayangku, lagi ceritain apa sih? Ibu kasih tau dong…” senyum lebar tak lupa menghiasi wajah.
“power ranger itu punya pedang sakti bu, bisa ngelawan monster – monster”kata faiz bersemangat sambil melebarkan matanya yang sudah bulat dengan ekspresi lucu. Sambil terus tersenyum saya berpikir tentang tanggapan apa yang akan saya utarakan
“oh..ibu kenal pahlawan islam yang juga punya pedang sakti, namanya Ali bin Abi Thalib, mau kenalan gak sama Ali?
“mau..tapi aku nggak tau rumahnya…” faiz berkata mantap.
Anak dan media menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan. Mereka membutuhkan contoh konkret tentang nilai – nilai dalam kehidupan, bila tidak terteladani secara utuh oleh orang tua dan lingkungan terdekatnya, maka medialah yang akan menggantikan.
Perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat ini telah maju dengan sangat pesat, apa yang terjadi di seluruh dunia ini dapat kita ketahui tanpa harus keluar dari kamar tidur, paparan iklan yang pantang menyerah mengajak kita untuk berpola hidup konsumtif terus bergulir sepanjang waktu. Norma – norma ketimuran yang menjadi jati diri bangsa ini telah bergeser kepada nilai – nilai barat hasil dari keberhasilan sebuah hegemoni. Terlebih generasi islam kita, sepertinya teman kita faiz sudah cukup mempresentasikan.
Terasa kering tenggorokan kita karena menuntut media khususnya televisi untuk ramah kepada keluarga. Kenyataannya, masih banyak tayangan yang berbahaya ditonton anak tayang di jam – jam yang justru banyak anak yang menonton. Komisi penyiaran di negara ini juga punya stok pasal yang bisa mengatur ini dan itu, tapi itu semua seperti mulut yang tidak punya gigi. Tak bisa menggigit. Tentu saja
Jadi apa yang harus kita lakukan?
Memutus anak terhadap media bukanlah tindakan yang bijak, segi positif dari media juga tak kalah pentingnya bagi anak untuk dalam keilmuan dan informasi.
Mengajarkan anak untuk cerdas memilih tayangan sehat dan bergizi merupakan hal yang harus dilakukan, dalam hal ini otoritas orang tua juga diperlukan, lemari televisi yang kuncinya dikendalikan orang tua menurut saya tidak mengapa diadakan, begitu pula dengan media lainnya, misalnya penggunaan internet, kemajuan teknologi terkini memungkinkan kita para orang tua menggunakan otoritasnya, dengan memblokir situs – situs atau kata kunci yang tertentu di search dengan mudah agar aman digunakan oleh anak.
Hal – hal lain yang harus kita lakukan misalnya membiasakan diri untuk mendongeng kepada anak, tentu saja dengan cerita yang baik, tidak sembarang dongeng yang terkadang juga miskin nilai kebaikan, tetapi cerita – cerita nabi dan sahabat, orang – orang shalih, dongeng rakyat, pahlawan bangsa maupun kejadian sehari – hari yang banyak mengandung hikmah.
Selain itu, biasakan anak akrab dengan buku bacaan, tidak harus membeli, buku – buku itu bisa kita dapat dari perpustakaan dengan meminjam, tentu dengan mematuhi aturannya.
Hal yang tidak kalah penting adalah memberi banyak waktu bagi anak untuk bermain, akan banyak kecerdasan yang akan berkembang dari dalam dirinya dari hasil pengalaman – pengalaman bermainnya.
Semoga kita bisa membimbing anak – anak kita agar menjadi generasi cerdas dan bertakwa.


