Jumat, 06 Maret 2009

Media Jinak untuk Anak

hari itu relatif panas, segelas air putih rasanya tidak cukup untuk menghalau cuaca. Walaupun begitu, saya tetap berkonsentrasi memantau perkembangan siswa tk tempat saya mengajar ketika mereka sedang bermain dengan huruf dan angka. Tertarik rasanya mendekati teman kecil saya yang tak henti bercerita kepada teman – temannya, namanya faiz, mirip seperti nama suami saya. Kayaknya seru sekali. Tak tahan rasanya ingin bertanya pada faiz apa yang sedang seru diceritakannya itu;

“sayangku, lagi ceritain apa sih? Ibu kasih tau dong…” senyum lebar tak lupa menghiasi wajah.

“power ranger itu punya pedang sakti bu, bisa ngelawan monster – monster”kata faiz bersemangat sambil melebarkan matanya yang sudah bulat dengan ekspresi lucu. Sambil terus tersenyum saya berpikir tentang tanggapan apa yang akan saya utarakan

“oh..ibu kenal pahlawan islam yang juga punya pedang sakti, namanya Ali bin Abi Thalib, mau kenalan gak sama Ali?

“mau..tapi aku nggak tau rumahnya…” faiz berkata mantap.

Anak dan media menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan. Mereka membutuhkan contoh konkret tentang nilai – nilai dalam kehidupan, bila tidak terteladani secara utuh oleh orang tua dan lingkungan terdekatnya, maka medialah yang akan menggantikan.

Perkembangan teknologi informasi yang terjadi saat ini telah maju dengan sangat pesat, apa yang terjadi di seluruh dunia ini dapat kita ketahui tanpa harus keluar dari kamar tidur, paparan iklan yang pantang menyerah mengajak kita untuk berpola hidup konsumtif terus bergulir sepanjang waktu. Norma – norma ketimuran yang menjadi jati diri bangsa ini telah bergeser kepada nilai – nilai barat hasil dari keberhasilan sebuah hegemoni. Terlebih generasi islam kita, sepertinya teman kita faiz sudah cukup mempresentasikan.

Terasa kering tenggorokan kita karena menuntut media khususnya televisi untuk ramah kepada keluarga. Kenyataannya, masih banyak tayangan yang berbahaya ditonton anak tayang di jam – jam yang justru banyak anak yang menonton. Komisi penyiaran di negara ini juga punya stok pasal yang bisa mengatur ini dan itu, tapi itu semua seperti mulut yang tidak punya gigi. Tak bisa menggigit. Tentu saja Para kapitalis media tersebut tak mau mengurangi keuntungan.

Jadi apa yang harus kita lakukan?

Memutus anak terhadap media bukanlah tindakan yang bijak, segi positif dari media juga tak kalah pentingnya bagi anak untuk dalam keilmuan dan informasi.

Mengajarkan anak untuk cerdas memilih tayangan sehat dan bergizi merupakan hal yang harus dilakukan, dalam hal ini otoritas orang tua juga diperlukan, lemari televisi yang kuncinya dikendalikan orang tua menurut saya tidak mengapa diadakan, begitu pula dengan media lainnya, misalnya penggunaan internet, kemajuan teknologi terkini memungkinkan kita para orang tua menggunakan otoritasnya, dengan memblokir situs – situs atau kata kunci yang tertentu di search dengan mudah agar aman digunakan oleh anak.

Hal – hal lain yang harus kita lakukan misalnya membiasakan diri untuk mendongeng kepada anak, tentu saja dengan cerita yang baik, tidak sembarang dongeng yang terkadang juga miskin nilai kebaikan, tetapi cerita – cerita nabi dan sahabat, orang – orang shalih, dongeng rakyat, pahlawan bangsa maupun kejadian sehari – hari yang banyak mengandung hikmah.

Selain itu, biasakan anak akrab dengan buku bacaan, tidak harus membeli, buku – buku itu bisa kita dapat dari perpustakaan dengan meminjam, tentu dengan mematuhi aturannya.

Hal yang tidak kalah penting adalah memberi banyak waktu bagi anak untuk bermain, akan banyak kecerdasan yang akan berkembang dari dalam dirinya dari hasil pengalaman – pengalaman bermainnya.

Semoga kita bisa membimbing anak – anak kita agar menjadi generasi cerdas dan bertakwa.

Serial Roji' dan Roja' : Milih Caleg



Jumat, 06 Februari 2009

Kamis, 05 Februari 2009

Dia Adalah Suamiku

Dia adalah sosok laki - laki sederhana. Yang meniti hidup dengan kebersahajaan. Garis wajahnya tajam, dengan kedua alis yang hampir bertaut, memiliki mata elang serta berbibir tipis yang mendadak manis bila tersenyum. Semua orang yang sekilas melihatnya pasti akan berpikiran sama seperti seorang sopir taksi ketika akan mengantarku pulang yang spontan berkata, "itu suami eneng yah? pasti orangnya pendiem", terkejut sejenak lalu kubalik tanya, "kok abang tahu?", seperti menang undian sopir taksi itu berujar " keliatan dari mukanya neng...".
Suamiku adalah seorang sederhana yang lembut. Sungguh tak pernah terlontar dari lisannya kata atau kalimat yang kasar sekalipun dalam situasi bercanda. Dia paling senang membangunkan tidur dengan mencium pipiku yang lembut ^_^. Ah.. aku tahu sikapnya bila ia tidak suka, ia tidak akan berkata satu patah pun, bila sedang sangat marah, wajahnya akan memerah, tapi tetap diam.
Umm... jangan tanya apakah ia pernah menyatakan cinta padaku. Karena kenyataan lebih indah dari sekedar jawab. Dibalik kemisteriusan sikapnya, ia adalah orang paling romantis dunia akherat ^_^, bahasa cintanya tidak hanya diungkapkan lewat lisan, tetapi sikap dan perilakunya melebihi ucapan, aku paling senang ketika ia membuatkanku susu hangat, membawakannya, dan menggelitikku ketika aku pura - pura tertidur agar bebas minum susu.
Aku belajar bagaimana bersabar dari suamiku itu, dia selalu mementingkan perasaanku diatas logika yang sebenarnya. Jangan mengira ia tidak memiliki pendirian, justru sebaliknya ia pandai mempengaruhiku, tanpa kusadari. Ia pemimpin yang sukses atas diriku, disebabkan ia memperhatikanku diatas segalanya.
Ya, dia adalah suamiku, Muhammad Faiz Rozi. Aku mencintainya.


Senin, 26 Januari 2009

PALESTINA, SEBUAH TSUNAMI KEMANUSIAAN MENYAMBUT GELOMBANG SOLIDARITAS



Jan 23, '09 2:58 AM
for everyone



PALESTINA, SEBUAH TSUNAMI KEMANUSIAAN MENYAMBUT GELOMBANG SOLIDARITAS

Tragedi kemanusiaan ini terlanjur sudah menjadi tontonan keseharian masyarakat dunia. Kekuatan penghancur tragedi kemanusiaan ini adalah mesin teknologi membunuh yang paling canggih, yang paling modern yang pernah dimiliki manusia yang menganggap dirinya paling modern saat ini. Peradaban manusia saat ini telah tersungkur ke titik nadir, peradaban para penguasa rakyat dunia yang biadab tak bermoral.

Perang brutal atas Gaza Palestina adalah sebuah bencana kemanusiaan modern! Mengapa demikian? karena dampak dan risikonya adalah malapetaka bagi penghancuran eksistensi manusia secara umum dan secara khusus adalah rakyat lemah tak berdosa bangsa Palestina. Semua manusia yang masih bersepakat bahwa dirinya adalah manusia di muka bumi ini, pasti akan merasakan betapa kejahatan perang ini telah merusak sekaligus menggugah dan membakar emosi nurani dan moral kemanusiaan paling dasar yang kita miliki. Perang ini sama sekali tak mengenal belas kasihan. Tak ada perikemanusiaan. Tak ada yang sanggup menghentikan tragedi ini dengan segera. Pengrusakan atas kemanusiaan terus saja berlangsung, bahkan makin sadis.

Otoritas perang sama sekali tak mengizinkan siapapun memberikan pertolongan bantuan dalam bentuk apa pun. Siapa yang coba berani memberikan bantuan kemanusiaan maka penguasa dunia akan menyebutnya teroris atau pendukung teroris. Biadab sekali manusia. Menjadi bukti firman Allah SWT bahwa perilaku menyimpang manusia memang bisa lebih keji, lebih keji dari binatang paling buas sekalipun. Sehingga tragedi kemanusiaan ini terlanjur sudah menjadi tontonan keseharian masyarakat dunia. Kekuatan penghancur tragedi kemanusiaan ini adalah mesin teknologi membunuh yang paling canggih, yang paling modern yang pernah dimiliki manusia yang menganggap dirinya paling modern saat ini. Peradaban manusia saat ini telah tersungkur ke titik nadir, peradaban para penguasa rakyat dunia yang biadab tak bermoral.

Objek dan target utama perang ini adalah manusia, penghancuran manusia. Penghancuran atas sendi-sendi kemanusiaan secara umum. Penghancuran kemanusiaan dalam skala multidimensi. Apa pun ada dalam tragedi ini. Kematian massal, kelaparan, ketakutan, kehilangan segala harta benda, kehilangan harapan, dan sejuta kepahitan lainnya. Percayalah tragedi ini bukan hanya akan dirasakan secara internal rakyat Palestina, tetapi juga secara eksternal seluruh masyarakat dunia akan ikut merasakan.

Dampak internal bagi rakyat palestina selain telah menyebabkan kehilangan nyawa dan jiwa secara langsung dalam jumlah yang potensial akan menjadi luar biasa, tragedi ini juga menyebabkan kehilangan akses dan keberlangsungan kesempatan hidup bagi jutaan rakyat Palestina. Selain mengalami malapetaka dalam dimensi materi seperti kekurangan pangan yang akan menjadi ancaman kelaparan, yang tak kalah berbahayanya adalah rakyat Palestina juga akan mengalami keguncangan jiwa luar biasa.

Sebaliknya, dampak eksternal bagi masyarakat dunia dalam perspektif yang lebih positif adalah berupa bangkitnya ekspresi kemanusiaan dalam bentuk kepedulian dan tanggungjawab sosial masyarakat. Rasa kemanusiaan secara spontan dan komunal ini akan mewujud dalam bentuk solidaritas sosial yang besar.

Ibarat bah, tak kan bisa dihentikan. Ini adalah sunnah kehidupan, tabiat dan fitrah kehidupan bahwa kebenaran akan selalu muncul sebagai pemenangnya. Allah SWT, Tuhan sang penguasa alam semesta selalu menghadirkan pertolongannya di akhir waktu, di penghujung pengharapan manusia pejuang kebenaran, tepat pada saat kedzaliman berada di puncak dan tak terhentikan oleh tangan-tangan manusia beradab. Yakinilah saat ini pertolongan itu akan segera tiba. Segera datang membersamai jiwa-jiwa solider, jiwa-jiwa peduli, jiwa-jiwa pencinta kemanusiaan sejati. Selalu ada hikmah di balik tragedi.

Ini adalah hikmah positif tragedi ini. Jika solidaritas sosial dalam skala komunal dan universal ini dikelola dengan baik maka bisa menjadi modal sosial yang besar, bisa menjadi instrumen perubahan yang dahsyat. Modal sosial ini bisa menjadi sumber kekuatan pembangunan peradaban masa depan dunia yang lebih manusiawi berlandaskan moral kemanusiaan.

Pemersatu dunia masa depan adalah kemanusiaan.

Inilah dahyatnya solidaritas kemanusiaan. Solidaritas kemanusiaan adalah akhlak para utusan Tuhan, akhlak para Nabi dan Rasul. Sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling bisa memuliakan orang lain. Begitulah wejangan sabda Nabi. Jika rakyat sedunia bersatu dalam kemanusiaan tak akan bisa dikalahkan oleh rezim apapun.

Sebaliknya, jika tragedi kemanusiaan ini tidak segera di atasi dengan baik, maka sangat berpeluang menyebabkan kemarahan lepas kendali yang pada akhirnya akan memicu tragedi kemanusiaan lebih merata ke seluruh penjuru dunia. Resikonya adalah kita akan menuai bencana kemanusiaan yang lebih besar, lebih rumit, dan kompleks. Jika itu terjadi, gagal-lah peradaban manusia, gagal-lah misi manusia sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Dan bersiaplah menghadapi risiko besar menghadapi kekuasaan dan kekuatan Allah SWT atas kita semua.

Siapa berani?

Melupakan Dosa Sejarah

Seorang Akhwat, sebutlah akhwat B berjalan bersama ketiga orang rekannya di suatu aksi menentang agresi israel di Palestina yang diselenggarakan oleh sebuah gerakan mahasiswa islam skala nasional. Sesampainya disana, ia disambut oleh seseorang akhwat berjilbab kuning, yang sedang mengikuti jalannya aksi. Akhwat berjilbab kuning tesebut bertanya pada akhwat yang baru datang tersebut, "mana temen - temen akhwat UIN yang lain? " sang akhwat B menjawab, "Yang datang 4 orang, karena UIN sedang UAS" mendengar itu akhwat berjilbab kuning langsung berkata "oh 4... kirain 40..." sembari meninggalkan akhwat B.
Hal tersebut merupakan salah satu contoh akhlak personal dalam organisasi gerakan yang beridentitas islam. Memang sulit dipercaya, tapi itulah yang terjadi. Sikap sinis dan kalimat sindiran kerapkali terlontar dari lisan orang - orang yang mengaku aktivis islam tersebut.
Setelah ditelisik, sikap sinis itu berawal dari kesalahan yang dilakukan oleh para senior yang merupakan satu almamater dengan akhwat B dan teman - temannya pada saat diberikan amanah oleh organisasi tersebut sebelumnya. Apa kesalahan para senior itu saya tidak tahu persis. Hal ini menyebabkan akhwat B terkena imbas dari "dosa sejarah" yang sepertinya tak lekang oleh zaman. Tidak hanya akhwat B, seluruh personal yang satu kampus walaupun tidak melakukan "dosa" juga terkena.
Lantas, apakah hal tersebut dibenarkan? layakkah diri kita untuk terus mengingat kesalahan masa lalu dan menggeneralisasikan hal tersebut pada semua orang?. Tidak, tentu saja jawabannya tidak.
Pada akhirnya sama saja dengan bagaimana nantinya saya memandang akhwat berjilbab kuning itu dengan latar belakan organisasi tersebut. Adalah lucu bila saya menilai semua yang terkait didalamnya berakhlak sama dengan akhwat tersebut.Belum - belum, sudah mencap negatif. Rugi sekali. Ketika hati ini telah bersih dari dendam masa lalu dan mulai membangun organisasi ini dengan visi dan misi yang mantap. Membalas kritikan dan cemooh dengan amal nyat. Bukankah itu merupakan suatu kebaikan?. Kebaikan yang tentu saja menuai keberkahan.